Kiat Mengelola Kolesterol Tinggi

Gejalanya memang tidak tampak. Itulah yang menyebabkan seseorang dengan risiko berkolesterol tinggi harus rajin memeriksakan darah ke laboratorium. Sementara usaha perbaikan bisa dijalankan melalui diet rendah lemak dan rajin berolahraga. Kalau buntu, obat bisa dijadikan alternatif pamungkas.

“Heran, kadar total kolesterol saya hampir selalu di atas 275 mg/dl. Padahal saya sudah mengurangi makanan tinggi lemak,” keluh Ibu Yus (55), yang berperawakan kurus tinggi. Mengapa Ibu dua orang putri ini harus merisaukan kadar kolesterolnya? Memang, tinggi kolesterol atau hiperkolesterolemia bukanlah suatu penyakit dan juga tidak dirasakan gejalanya. Tapi kalau kita kurang waspada, pembuluh darah bisa rusak atau dinding pembuluh bisa melemah (arterosklerosis). Kalau keterusan bisa berisiko terkena penyakit jantung koroner (PJK) dan stroke.

Sebenarnya apa fungsi kolesterol dalam tubuh kita? Ia diperlukan dalam berbagai proses metabolisme. Misalnya, selain sebagai bahan pembentuk dinding sel, kolesterol juga dibutuhkan untuk membuat vitamin D. Bahan ini juga berperan dalam penyusunan hormon-hormon steroid, termasuk hormon seks dan kortikosteroid. Demikian juga pembuatan asam empedu yang digunakan untuk mengemulsi lemak.

Kolesterol dibuat dalam hati dan usus halus, tapi “rumahnya” ada di darah. Ia terangkum dalam ikatan lipoprotein, yang terdiri atas chylomicron, VLDL (very low density lipoprotein), LDL(low density lipoprotein) dan HDL(high density lipoprotein).

Lipoprotein tersebut masing-masing mempunyai fungsi. Chyclomicron mengangkut kolesterol yang baru saja dibentuk dalam usus halus untuk kemudian dibawa ke limpa. VLDL bertugas membawa kolesterol yang dikeluarkan dari hati ke jaringan otot untuk disimpan sebagai cadangan energi. LDL mengangkut kolesterol di dalam plasma darah untuk keperluan pertukaran zat. Sayang, dalam menjalankan tugasnya partikel-partikel LDL mudah menempel pada dinding pembuluh koroner. Sementara HDL berperan menangkap kolesterol bebas dari sel-sel membran yang mati, untuk diangkut kembali ke dalam hati. Karena itu HDL dikenal sebagai kolesterol yang baik.

Untuk menilai apakah kadar kolesterol seseorang tinggi atau rendah, harus dilihat pada kadar LDL dan HDL kolesterolnya. Pada tahun 1993 – 1994 NCEP(National Cholesterol Educational Program) memberikan batasan, kadar LDL maksimal bagi orang sehat berisiko rendah (kurang dari dua risiko terhadap PJK), adalah 190 mg/dl, idealnya 160 mg/dl. Bagi orang sehat (bukan penderita PJK atau stroke) yang mempunyai faktor risiko di atas dua, kadar maksimal LDL 160 mg/dl, idealnya 130 mg/dl. Sementara seorang penderita PJK atau stroke, LDL maksimalnya 130 mg/dl, idealnya 100 mg/dl atau di bawahnya.

Untuk melihat apakah seseorang berisiko PJK, bagilah kolesterol total dengan kadar HDL. Rasio yang diperoleh tidak boleh lebih dari 4,5.

Berisiko tinggi

Risiko tinggi untuk mendapat PJK dan stroke erat berhubungan dengan kadar kolesterol tinggi. Khususnya mereka yang mempunyai faktor risiko lebih dari dua, yakni pengidap hipertensi, diabetes mellitus, perokok, obesitas, dan mereka yang mempunyai faktor bawaan. Mereka yang berada di kelompok berisiko tinggi ini harus memperhatikan atau memperbaiki pola hidup sehari-hari. Bagi mereka dianjurkan untuk diet rendah lemak, berolahraga cukup, menjaga berat badan seimbang, dan berhenti merokok.

Stroke karena kolestrol tinggi disebabkan oleh kelainan dinding nadi (ditandai dengan penebalan dan hilangnya elastisitas pembuluh otak (arterosklerosis). Kasus-kasus stroke yang lebih jarang ada yang disebabkan oleh aneorisma pembuluh darah (yang menyebabkan pembuluh mudah pecah), emboli, atau irama jantung tidak normal.

Seseorang dengan kadar kolesterol tinggi memang kurang merasakan gangguan ini. “Karena tidak ada tanda-tanda khas,” kata dr. P. Tedjasukmana dari RS Mitra Keluarga, Jakarta. Namun gejala khas kadang muncul juga pada penderita menahun berupa xanthelasma atau endapan kolesterol berbentuk noda kuning muda di tengah atau di ujung kelopak mata. Gejala lain berupa xanthoma, yakni timbulnya benjolan padat pada tendo (urat) siku, tumit, atau lutut. Biasanya kedua gejala tersebut timbul pada penderita kolesterol bawaan atau genetik (familial hypercholesterolemia). Untuk memastikan benar tidaknya hiperkolesterolemia yang diidap bersifat bawaan, silsilah pasien harus diteliti. Biasanya kasus kolesterol bawaan ini mudah diketahui karena manifestasi klinisnya kuat, walaupun pada beberapa kasus ada pula yang tidak kuat. Tapi tetap saja dr. Tedjasukmana memperingatkan, “Meski manifestasi klinisnya tidak kuat, kalau tidak diimbangi dengan diet rendah lemak secara teratur, akan terkena (hiperkolesterolemia) juga.”

Kalau hati tidak beres

Karena hati merupakan pusat metabolisme lemak, kalau terjadi gangguan pada organ hati dengan sendirinya kadar kolesterol akan terpengaruh. Seseorang yang sedang menderita hepatitis, pasti kadar kolesterolnya meninggi. Demikian juga seseorang dengan sumbatan pada saluran empedunya. Tetapi begitu si penyakit dapat dienyahkan, kadar kolesterol akan normal kembali.

Dalam persentase yang kecil, gangguan pencernaan juga bisa mengganggu keseimbangan kolesterol. Di sini kadar kolesterol meninggi karena enzim pengatur lemaklah yang terganggu. Seseorang dengan kelainan hipotiroid (hormon tiroid rendah) pun bisa terganggu kadar kolesterolnya, karena menurunnya tingkat metabolisme tubuh.

Kolesterol tinggi bisa juga terjadi karena faktor dari luar. Sebut saja salah diet. Seseorang yang merasa sudah mengatur pola makannya seperti Ibu Yus tadi, belum tentu terjamin kadar LDL kolesterolnya akan membaik. “Mungkin ia sudah mengurangi konsumsi daging dan kuning telur, tapi konsumsi santan, kacang tanah, keju atau coklat tetap jalan terus. Tentu saja salah diet ini tidak akan banyak membantu,” kata Tedjasukmana pula.

Diakuinya, memang cara menurunkan kadar LDL dan menaikkan kadar HDL yang tercepat adalah dengan minum obat. Tapi dokter ahli penyakit jantung ini menyarankan sebelum mengkonsumsi obat-obatan, coba dulu mengatur pola makan dan olahraga teratur selama 6 bulan. Orang yang kegemukan harus menurunkan berat badannya terlebih dulu, mereka yang kadar trigliserida tinggi selain lemak, juga harus mengurangi konsumsi gula dan karbohidrat.

Kalau akhirnya harus minum obat, apa boleh buat. Tahun 1980-an adalah era obat kolesterol terbaru yang mengandung statin. Kelompok obat statin (misalnya: zocor, pravachol, lipitor) ini dapat mengerem kerja enzim HMG Coenzyme A (Hydroxy Methyl Glutaryl Coenzyme A) yakni enzim yang mengatur kecepatan reaksi bio-sintese kolesterol dalam hati. Penurunan kadar total dan LDL kolesterol akan terjadi dalam dua minggu pengobatan. Dengan terapi lebih lanjut, kadar trigliserida akan turun pula dan kadar HDL naik sekitar 10%.

Apakah statin boleh diminum seumur hidup? Pada dasarnya setiap dokter tidak menghendaki pasiennya minum obat seumur hidup. Ujung tombak dalam pengobatan hiperkolsterolemia adalah diet rendah lemak. Sebab itu, setelah satu resep pengobatan perlu dihentikan dulu. Pasien berusaha untuk melakukan diet dibarengi olahraga teratur. Kalau sekitar 3-6 bulan setelah pengobatan ternyata kadar kolesterol naik kembali, apa boleh buat. Sebaiknya obat diminum terus daripada menanggung risiko terkena PJK atau stroke. Kalau memang harus diteruskan, sesuaikan dosis yang ditentukan dokter.

Meski demikian, minum obat seumur hidup pun tidak akan menjadikan kadar kolesterol atau trigliserida turun terlalu rendah. Di sisi lain, penelitian menunjukkan, mereka yang minum obat penurun kolesterol dengan tujuan prevensi sekunder (sudah mengidap PJK), angka morbilitas dan mortalitasnya menurun sampai 30% dalam kurun waktu 5 tahun. Sementara pengobatan dengan tujuan prevensi primer (orang sehat dengan kadar kolesterol tinggi) menunjukkan hasil yang juga bagus (tingkat terjadinya PJK dan kematian karena PJK menurun).

Efek sampingan statin, sampai saat ini masih bisa diabaikan. Yang dapat terjadi paling-paling gangguan fungsi hati (kadar SGOT-SGPT) meningkat sesaat. Efek sampingan yang sangat jarang (kurang dari 0,5%) adalah terjadinya kerusakan sel otot (rhabdomyolysis) yang bisa berakibat gagal ginjal. Sedangkan efek sampingan ringan yang tidak berbahaya adalah setelah makan obat terasa kembung, sedikit mual, otot sedikit kencang atau pegal. Tapi ini hanya dirasakan dalam jangka waktu tertentu.

Tahukah Anda, obat kolesterol mana pun hendaknya dikonsultasikan ke dokter? Sebab ada beberapa jenis yang kandungannya mungkin tidak cocok dengan kebutuhan tubuh Anda, atau kurang mempan. Obat yang sering didengung-dengungkan melalui iklan pun hendaknya dikonsultasikan dulu ke dokter sebelum Anda mengkonsumsinya.

Olahraga teratur

Timbul pertanyaan, olahraga yang bagaimana yang efektif menurunkan kadar kolesterol? Oleh dr. Tedjasukmana disarankan untuk melakukan olahraga yang melibatkan otot-otot besar tubuh, paha dan lengan atas serta pinggul. Bisa disebut: senam aerobik, jalan kaki, berenang, joging, atau bersepeda; lakukan paling tidak tiga kali seminggu masing-masing 1 jam. Lima sampai sepuluh menit pertama digunakan untuk pemanasan, 30 menit untuk olahraga, dan 10 menit terakhir pendinginan. Olahraga dilakukan secara bertahap dan progresif. Setelah 30 menit berolahraga, detak nadi diukur yakni 70% dari nadi maksimum. Yang sudah menginjak usia setengah baya ke atas, sebelum melaksanakan olahraga rutin hendaknya memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui apakah dirinya mengidap penyakit degeneratif, seperti hipertensi, PJK, atau diabetes.

“Nikmatilah olahraga yang kita lakukan, jangan merasa terpaksa, karena olahraga harus dilakukan secara rutin seumur hidup,” katanya. Olahraga teratur, selain membuat kadar kolesterol menjadi normal, tekanan darah dan kadar gula darah pun ikut jadi normal, serta dapat mencegah terjadinya osteoporosis (kekeroposan tulang).

Olahraga teratur saja belum cukup, tapi masih harus disertai diet rendah lemak. Dalam makanan ada 3 macam lemak yakni saturated (lemak jenuh), monounsaturated (lemak tak jenuh tunggal), dan polyunsaturated (lemak tak jenuh ganda). Makanan seperti kuning telur, jerohan, otak sapi mengandung minyak jenuh sehingga harus dihindari. Makanan laut seperti udang dan kepiting, yang mengandung minyak tak jenuh tunggal, masih boleh dikonsumsi meski dalam jumlah terbatas. Sedangkan ikan yang berasal dari laut dalam (tenggiri, tuna), yang mengandung minyak tak jenuh ganda dan Omega 3 hendaknya banyak dikonsumsi karena dapat membantu menaikkan HDL dan menurunkan LDL. “Idealnya konsumsi makanan kita mengandung lemak di bawah 30%, karbohidrat 50-60%, dan protein 20%. Konsumsi makanan berkolesterol jangan sampai lebih dari 300 mg/hari. Hentikan juga kebiasaan merokok yang dapat memicu penebalan atau penyempitan pembuluh darah.

Dengan memperhatikan tips di atas, siapa tahu kadar kolesterol Anda akan terpelihara dengan lebih baik. (Nanny Selamihardja)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: