Pola Makan Masyarakat Indonesia Picu Penyakit Jantung

Jakarta, Sinar Harapan
Penyakit jantung dan pembuluh darah (PJP) masih menjadi penyakit mematikan nomor satu di dunia. Namun masyarakat Indonesia yang memiliki gaya hidup pemicu PJP sepertinya mengabaikan fakta ini.

”Berdasar survei yang dilakukan Yayasan Jantung Indonesia (YJI), dari 2500 respoden yang tersebar di kota-kota besar Indonesia terbukti sudah tahu kalau PJP disebabkan oleh merokok, stres serta pola makan yang salah. Tapi mereka juga menjawab bahwa sampai sekarang belum menghentikan semua kebiasaan buruk itu,” papar H.Masino, direktur eksekutif YJI kepada pers dalam sebuah workshop tentang jantung Rabu (14/8) di Jakarta.
Dari data yang dihimpun Departemen kesehatan (Depkes), peningkatan mortalitas akibat PJP terlihat jelas. Dari hanya 5,9 persen di tahun 1975 menjadi 9,1 persen pada 1981, berkembang menjadi 16 persen di 1986, dan terakhir 19,0 persen pada 1995. Data ini justru kebalikan dari yang dilansir World Heart Federation yang merekam adanya penurunan kematian karena PJP. Dari angka yang cukup tinggi yakni 5,1 persen pada 1985 menjadi 48 persen di 1990 dan 46,5 persen pada 1997.
Menurut Dr.Aulia Sani, Sp.JP, direktur utama Pusat Jantung Nasional Harapan Kita (PJNHK), penurunan mortalitas akibat PJP di negara maju ini disebabkan kesadaran masyarakat yang sudah diikuti dengan perubahan pola hidup.
Sebetulnya satu hal yang memicu terjadinya PJP sangat mudah diketahui, yakni terganggunya peran endotel oleh proses awal asterosklerosis atau penebalan dan pengerasan. Endotel adalah sel-sel yang ada di pembuluh darah tempat terjadinya proses metabolisme tubuh. Proses asterosklerosis ini bisa terjadi akibat dari berbagai faktor risiko.

Faktor Risiko
Kebiasan merokok, stres, kurang olah raga, kencing manis, obesitas, hipertensi serta hiperlipidemia alias kelebihan lemak, menurut Aulia, merupakan sederetan faktor risiko yang masih bisa diubah. Ada pula beberapa faktor yang tidak bisa diubah, yakni keturunan, usia dan jenis kelamin. Yang terakhir ini Aulia menuturkan bahwa lelaki lebih berisiko terkena PJP dibanding perempuan. Hal ini disebabkan perempuan yang belum mengalami menoupase memiliki hormon estrogen yang bisa mencegah terjadinya asterosklerosis dalam tubuh. Namun setelah menoupase maka risiko antara lelaki dan perempuan terkena PJP sama saja.
Seiring perkembangan waktu, ada penambahan faktor risiko pemicu PJP. Kadar pembekuan darah alias fibrinogen disinyalir belakangan ini kian tinggi. ”Kadar normal fibrinogen adalah 400, tetapi generasi kini justru memiliki kecenderungan mempunyai kadar lebih tinggi. Contohnya, saya hanya berkadar hanya 250, tetapi anak saya justru 500,” ungkap Aulia.
Faktor-faktor baru lain adalah kekurangan homosistein, munculnya lipoprotein alfa atau Lp (a) yang belakangan diketahui lebih jahat dari LDL atau kolesterol jahat. Lalu ada lagi infeksi klamidia. Semua kemunculan faktor baru ini bisa jadi akibat dari pergeseran gaya hidup manusia masa kini.
Padahal menurut Aulia, cukup dengan berhenti merokok maka risiko terkena PJP bisa menurun sampai 24,4 persen. Dan jika diikuti dengan olah raga akan bisa menurun lagi sampai 54 persen. Sayangnya kesadaran macam ini belum menyentuh masyarakat awam di Indonesia. Ini terbukti dengan jumlah perokok yang tidak pernah menurun dari tahun ke tahun.
Kebiasaan yang tidak kalah buruk selain merokok adalah pola makan. Prof.Dr.Ir.Ali Khomsan, pakar gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menyoroti bahwa pola makan orang Indonesia mempunyai pengaruh pada PJP. Kebiasaan pola makan di suatu daerah terbukti memiliki peran terhadap pada perkembangan PJP. Menurut pengamatan Ali, di daerah di mana penduduknya banyak mengonsumsi ikan seperti Maluku dan Sulawesi Utara angka penderita PJP-nya relatif rendah.
Penelitian di luar negeri membuktikan bahwa pada bangsa Eskimo yang rata-rata makan ikan 300 sampai 400 gram per hari bisa terbebas dari gangguan PJP. Penderita PJP yang sudah lanjut juga bisa berusia lebih panjang dengan mengonsumsi ikan tiga kali seminggu. Kenyataan ini yang tidak disadari oleh kebanyakan orang Indonesia yang lebih suka memakan daging daripada ikan.
”Apalagi orang Jawa, kalau sudah makan dengan nasi dan tempe saja merasa tidak perlu makan ikan karena sudah menganggap makanannya mengandung protein. Padahal protein dalam ikan tidak bisa digantikan dengan tempe,” tutur Ali.
Ditambah lagi dengan merebaknya restoran fast food di banyak kota besar di Indonesia yang menyumbang peningkatan PJP. Fast food jarang menyajikan makanan berserat. Menu yang tersaji cenderung mengandung banyak garam, lemak dan kolesterol.
Ali menyebut, dalam satu potong double cheeseburger terkandung 13,34 gram lemak dan 118 miligram kolesterol. Sedangkan pada sepotong dada ayam siap saji terkandung 13,73 gram lemak serta 581 miligram kolesterol. Pada satu potong paha ayam ada kandungan 10,16 gram lemak dan 306 miligram kolesterol. Orang Indonesia tidak cukup hanya memakan daging ayam saja, masih ditambah dengan nasi putih atau kentang goreng, bahkan juga es krim. Bayangkan berapa lemak dan kolesterol yang masuk ke dalam tubuh kita sekali ”mampir” ke sebuah restoran fast food.

Mengubah Pola Makan
”Masyarakat kita lebih cepat mengadopsi fast food daripada kebiasaan pola makan sehat orang barat,” tutur Ali yang juga dosen pasca sarjana di IPB ini. ”Padahal ada kebiasaan pola makan yang cukup sehat dari orang barat, yakni mengonsumsi oat bran, sejenis gandum berserat.”
Dengan mengonsumsi oat bran 50 gram saja sehari maka kolesterol total bisa turun sebanyak 19 persen dan kolesterol LDL turun sebanyak 23 persen. Sayangnya masyarakat justru merasa tidak puas apabila hanya mengonsumsi sereal. Ali juga menyitir peribahasa barat yang berbunyi ”Eat an apple a day keeps the doctor away”. Menurutnya peribahasa ini ada benarnya sebab dalam kulit apel terdapat pektin, zat yang bisa menurunkan kadar kolesterol.”Tapi orang Indonesia justru punya kebiasaan mengupas apel sebelum dimakan,” ujar Ali.(mer)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: