”Leguminose” Pembantu Program Diet

KACANG kedelai (Glycine max) yang termasuk dalam salah satu sumber pangan memiliki sejumlah produk turunan sejak dari produk hulu berupa rebus kacang kedelai (kacang bulu, Snd) hingga tahu, tofu, tempe, kecap, susu kedelai dan lain sebagainya. Sebagai salah satu sumber protein nabati, kacang kedelai membantu kesehatan manusia mulai dari pencegahan osteoporosis (kerapuhan tulang), penyakit jantung hingga kanker payudara. Bahkan kedelai diyakini pula sebagai pembantu dalam terapi hormon estrogen dan gejala menopause.

Sebagai anggota ”keluarga” kacang-kacangan dari tanaman leguminose, tanaman kedelai mampu mengubah nitrogen, air dan CO2 menjadi protein yang berguna bagi tubuh. Kacang kedelai menyimpan kandungan nutrisi yang cukup besar, sehingga pengolahannya dapat mengubah sejumlah kelebihan hasil fitokimia dalam setiap biji kedelai.

Di beberapa belahan dunia, makanan berbahan dasar kedelai menjadi pangan untuk diet, mengingat konsumsi kedelai terkait dengan penekanan risiko penyakit kronis tertentu.

SEJARAH kacang kedelai bermula dari tanaman yang sangat dikenal di belahan bumi Timur. Namun kini kedelai tersebar dan dikonsumsi di berbagai belahan bumi. Nenek moyang kacang kedelai semula agak sulit dibudidayakan, namun sejalan perkembangan ilmu Agronomi, maka kedelai dapat ”dijinakkan” dan menjadi salah satu pangan bermanfaat pada kegiatan diet sehari-hari.

Meski masyarakat Barat mengetahui keunggulan pangan olahan dari kedelai, mereka tidak pernah memanfaatkannya sebagai pangan alternatif pada program diet seperti masyarakat Timur. Tapi kini masyarakat Barat mulai menyadari pula keunggulan pangan berbahan dasar kedelai sebagai bagian pangan pendukung program diet.

Protein yang dikandung kedelai merupakan protein terlengkap yang berasal dari flora. Kedelai mengandung semua asam amino esensial yang diperlukan tubuh. Jumlah asam amino tersebut sudah memadai dalam memenuhi kebutuhan protein dalam tubuh. Terlebih lagi, kandungan protein pada kacang kedelai setara dengan protein hewani semacam daging, susu dan telur. Jadi bagi vegetarian tidak perlu khawatir dalam memenuhi kebutuhan protein. Masih ada kedelai.

Penyakit jantung (cardiovascular disease/CVD) mengacu pada penyakit dan kondisi yang memengaruhi jantung dan saluran arteri, termasuk serangan jantung, stroke dan tekanan darah tinggi. Meskipun penyakit jantung merupakan penyebab utama kematian di AS dan sejumlah negara berkembang, tingkat risiko kematiannya berbeda. Angka kematian akibat penyakit jantung di AS, baik perempuan ataupun pria, dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan Jepang.

Angka kematian akibat kanker antara masyarakat Barat dan Timur juga berbeda. Kanker payudara pada perempuan dan kanker prostat pada pria merupakan kanker yang umum dan menjadi penyebab kematian kedua di AS setelah serangan jantung. Ternyata angka kematian akibat kanker payudara di AS 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan Jepang. Demikian pula dengan kematian akibat kanker prostat di AS lebih tinggi hingga tiga kali lipat dibandingkan pria Jepang.

Kenyataan itu membuat para peneliti mencoba mencari tahu penyebab rendahnya kematian akibat penyakit jantung dan kanker pada masyarakat Jepang dibandingkan masyarakat AS. Meskipun banyak perbedaan di antara dua kebudayaan tersebut, sejumlah perhatian dipusatkan pada konsumsi protein kedelai.

Masyarakat AS rata-rata mengonsumsi protein kedelai sebanyak 1-3 gram/hari. Sebaliknya, konsumsi protein kedelai di Asia berkisar antara 10 gram/hari di Cina hingga 30-50 gram/hari di Jepang dan Taiwan. Masyarakat Asia mengonsumsi kedelai 20-50 kali lebih tinggi dibandingkan masyarakat AS.

Namun warga Asia yang bermigrasi ke Barat mengalami perubahan konsumsi pangan. Berdasarkan suatu survei, serapan kedelai masyarakat Cina di negaranya 10 – 15 kali lebih tinggi dibandingkan masyarakat Cina yang tinggal di Kalifornia dan Hawaii.

Para peneliti mengamati kenaikan risiko terkena penyakit kronis pada masyarakat Asia yang tinggal di Barat. Peneliti membandingkan kejadian kanker payudara pada perempuan Cina-Amerika dan Jepang-Amerika kelahiran Asia dan kelahiran AS, serta perempuan Kaukasia kelahiran AS.

Para peneliti mendapati risiko kanker pada perempuan kelahiran Asia lebih rendah 50% dibandingkan perempuan Kaukasia, dan lebih rendah 25% pada perempuan Asia kelahiran AS. Sementara pria Jepang yang yang tinggal di luar Jepang mengalami kenaikan peluang terkena kanker prostat.

Kecenderungan sama terjadi pada penyakit jantung. Suatu penelitian menunjukkan, rendahnya kematian akibat penyakit jantung terjadi pada pria Jepang yang tinggal di negaranya, meningkat menjadi menengah pada pria Jepang yang tinggal di Hawaii dan menjadi berisiko tinggi pada pria Jepang yang tinggal di Kalifornia.

Temuan itu membuktikan faktor-faktor eksternal, termasuk pilihan diet makanan memengaruhi angka kematian akibat penyakit jantung.

Namun tidak ada petunjuk langsung mengenai berkurangnya konsumsi kedelai menimbulkan peningkatan risiko penyakit kronis pada warga Jepang yang bermigrasi ke Barat. Yang jelas, perubahan pola makan secara umum, disertai kemungkinan asupan protein kedelai, menjadi faktor penyebab peningkatan risiko tersebut.

Pada beberapa negara, masyarakatnya hidup lebih lama dari generasi sebelumnya. Kenaikan usia harapan hidup meningkatkan pula peluang terkena penyakit kronis terkait dengan usia. Pencegahan adalah upaya untuk meningkatkan kesehatan. Pengaturan pola makan adalah salah satu upaya mencegah serangan penyakit.

Sejalan dengan para peneliti berupaya mengidentifikasi pangan dan kandungannya yang bermanfaat bagi kesehatan dan mencegah penyakit, terjadi peningkatan minat penelitian pada kandungan protein kedelai.

Protein kedelai dapat menurunkan risiko penyakit jantung yang menjadi penyebab kematian utama. Protein kedelai juga ”menyehatkan” tulang dengan mengurangi dan mencegah osteoporosis akibat perjalanan usia, terutama pada perempuan pascamenopause. Konsumsi protein nabati tersebut juga mengurangi risiko kanker prostat dan kanker payudara.

Peneliti masih menggali keunggulan protein kedelai dalam mengatasi diabetes, manajemen berat badan dan penyakit ginjal.

Protein berperan pula dalam merawat jaringan otot. Rekomendasi angka konsumsi protein harian adalah 0,8 gram/kg berat badan. Sementara olah ragawan memerlukan protein 2 gram/kg berat badan.***

(dik/”Pikiran-Rakyat”/Berbagai sumber)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: