Produk Pangan Organik Dapat Kurangi Resiko Terkena Kanker


Produk pangan organik dapat mengurangi risiko terserang penyakit termasuk kanker. Itu disebabkan, produk organik memiliki keunggulan kadar nitrat lebih rendah. Kadar nitrat tinggi dapat mengurangi transpor oksigen dalam aliran darah, serta membentuk nitrosamin yang bersifat karsinogen.

Produk pangan organik juga mengandung serat yang sangat penting. “Masyarakat awam sudah banyak mengetahui, mereka perlu mengkonsumsi serat untuk menjaga kesehatan pencernaan karena mampu mengikat zat racun, kolesterol dan kelebihan lemak, sehingga dapat mencegah berkembangnya sumber penyakit,” ungkap Made Astawan, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB), dalam seminar bertema “Gaya Hidup Organik Bebas Toksin” diselenggarakan pada tanggal 4 September 2006 di Jakarta.

“Pangan organik juga meningkatkan perolehan vitamin, mineral dan serat bagi tubuh. Bahkan buah organik dapat dimakan bersama kulitnya,” lanjut Astawan.
Lebih lanjut Astawan menuturkan, saat ini berbagai produk organik telah beredar di pasar. Bukan hanya sayuran organik dan buah organik, tetapi juga daging, ayam, telur dan susu organik. Bahkan ada restoran-restoran yang menyediakan menu khusus sayuran dan daging ayam yang diproduksi secara organik.

Sementara itu dr Samuel Oetoro yang juga menjadi pembicara dalam seminar tersebut menyatakan bahwa kunci gaya hidup yang sehat dan bugar adalah makan sehat, berpikir sehat dan beraktivitas sehat. Makan yang sehat ialah makan sesuai kebutuhan dan gizi yang seimbang, yang terdiri atas 60-70% karbohidrat, 10-15% protein, 20-25% lemak dan tinggi serat. Serat yang tinggi sangat baik bagi kesehatan saluran pencernaan yang memiliki fungsi mencerna makanan, penyerapan, pembuangan dan sistem imunitas.
Ia menyarankan untuk mengkonsumsi serat sekurang-kurangnya 25-30 gram per hari. Serat sebanyak itu bisa didapatkan dari lima porsi buah (lima buah yang berbeda) dan tiga porsi sayur setiap harinya. “Atau bisa juga dengan mengkonsumsi sereal tiap hari, kacang-kacangan dan dengan menambah dua gelas air setiap hari,” tambahnya.

Seminar tersebut juga menghadirkan Direktur Operasional toko yang selama ini menjual produk organik, Healthy Choice, yakni Stevan Lie. Pada seminar tersebut Lie menyebutkan bahwa belum semua kalangan bisa menikmati produk organik yang menyehatkan, karena harganya tergolong mahal. Sayur kangkung, bayam, kol, atau sawi hasil kebun organik lokal harganya bisa tiga kali lebih mahal dari yang biasa.

Sementara itu untuk membeli produk impor, seperti selai, jus, susu, roti gandum dan lain sebagainya harus merogoh kocek lebih dalam lagi. Selai strawberry yang biasanya paling mahal Rp 20 ribu bisa menjadi Rp 60 ribu arau Rp 80 ribu, jika diproduksi secara organik. Begitu juga dengan roti gandum organik, harganya mencapai Rp 90 ribu per potongnya.
Beberapa kalangan memang mempertanyakan mahalnya harga yang ditetapkan. “Menurut mereka, bukankah pertanian organik memerlukan biaya produksi lebih rendah, karena tidak perlu menggunakan pestisida atau hormon pertumbuhan yang harganya semakin mahal,” tuturnya.
Stevan lie mengatakan, harga produk organik mahal karena beberapa alasan. Pertama, pertanian organik membutuhkan tenaga kerja lebih banyak. Pemusnahan hama menjadi semakin sulit dan rumit, karena dilakukan secara manual ataupun dengan predator alami. Kedua, masa tanam produk organik tanpa hormon pertumbuhan atau pertambahan pemupukan, sehingga menjadikan masa panennya jauh lebih lama daripada produk biasa.

Tanah yang digunakan untuk pertanian organik pun memiliki standar khusus, agar bisa dikatakan organik. Misalnya harus bebas kimia selama 10 tahun, memiliki jarak tertentu dari lahan pertanian lain yang menggunakan pestisida, jarak minimum dari jalan raya dan sebagainya.
“Sayangnya saat ini belum ada standardisasi atau sertifikasi mengenai produk organik ini di Indonesia. Begitu pula pengetahuan petani organik di Indonesia yang kurang,” papar Stevan.
Selebriti konsumsi organik.

Saat ini sebagian besar kalangan selebriti telah mengkonsumsi produk-produk organik. Seperti penyanyi Lucy Rahmawati, seorang mantan personel AB Three yang kini bersolo karir, sekarang menjalani gaya hidup organik.
Dari beberapa catatan, Sophie Novita, artis yang cukup populer, juga mengkonsumsi produk organik sejak ia hamil sampai saat ini. Tak ketinggalan musisi jazz kawakan, Ireng Maulana, yang selama ini vegetarian juga menjadi penggemar produk-produk organik. Bahkan Melly Manuhutu, seorang penyanyi pop terkenal, tidak hanya menjalani pola hidup organik, tetapi malah terjun ke bisnis pertanian organik. Ia memiliki lahan pertanian organik di sekitar Cisarua, Jawa Barat.
Selebihnya, mereka umumnya para selebriti berusia 40-an yang sudah mapan secara finansial, merasa harus menjaga pola makannya, atau orang-orang yang sudah mentok dan terpaksa mengkonsumsi produk organik karena penyakit yang diderita, seperti kanker kolon.

Seminar bertema “Gaya Hidup Organik Bebas Toksin” ini diselenggarakan oleh PT CNI (Citra Nusa Insan Cemerlang). Yang hadir dalam acara tersebut adalah para pakar pangan, khususnya pangan organik. Seminar tersebut konon memberi respon atas semakin membudayanya gaya hidup organik di masyarakat. Gaya hidup organik ini tersosialisasi karena menjamurnya perusahaan produsen, jaringan distribusi dan toko penyedia bahan pangan organik di kota-kota besar di Indonesia.( Sumber: http://beritabumi.or.id/berita3.php?idberita=551)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: