Makan Sehat Sambil “Berevolusi”

Pangan organik adalah: pangan yang diproduksi tanpa pupuk kimia atau artifisial dan atau pestisida sintetis, tetapi menggunakan pupuk organik seperti menur dari kotoran dan feses ternak, yang dikenal sebagai pupuk kandang serta kompos

MENGONSUMSI makanan sehat atau makanan berbasis material-material organik kini menjadi pilihan sejumlah orang.
Arus yang mendasari mulai merebaknya pengonsumsian makanan organik ini bukan hanya atas nama kepentingan hidup sehat. Di balik itu, sebetulnya juga berkecamuk semacam “perlawanan” terhadap semua gejala industrialisasi modern yang bersifat masif. Wong makan saja kok “perlawanan”? Lhah, ini kan memang zaman narasi dan kontranarasi….

Bertemu dengan kalangan produsen ataupun konsumen pangan organik, Anda akan mendapat bukan hanya penjelasan teknis apa itu pangan organik, tetapi juga berbagai konsep dari hidup sehat, harmoni lingkungan, kearifan alam, sampai ke spiritualisme. Selain itu juga ihwal “gaya hidup organik” ini sendiri, yang seperti merupakan arus balik dari proses modernisasi pertanian, yang dulu pernah dikenal manifestasinya antara lain lewat Revolusi Hijau.

Intensifikasi pertanian dalam “revolusi” itu yang didukung oleh perusahaan-perusahaan transnasional yang menguasai perdagangan benih, pupuk, pestisida, dan lain-lain telah mengebiri kemandirian petani. Selain itu, penggunaan bahan-bahan kimia dalam teknologi pertanian itu, dalam jangka panjang ternyata juga dianggap memerosotkan mutu lingkungan dan kehidupan secara menyeluruh.

Mengikuti arah pendulum jam yang selalu bergerak dari satu ekstrem ke ekstrem lain, gaya hidup organik mengandung beberapa muatan sekaligus, dari gaya hidup sehat sampai ke gerakan harmonisasi lingkungan, lewat semacam semboyan “back to nature” alias kembali ke alam itu.

SEBELUMNYA, perlu diterangkan apa itu sebenarnya pangan organik. Menurut ahli teknologi pangan Prof Dr FG Winarno dalam bukunya, Pengantar Pertanian Organik (M-Brio Press, 2004), yang disebut pertanian dan pangan organik adalah “…pangan yang diproduksi tanpa pupuk kimia atau artifisial dan atau pestisida sintetis, tetapi menggunakan pupuk organik seperti menur dari kotoran dan feses ternak, yang dikenal sebagai pupuk kandang serta kompos yang terbuat dari limbah hasil panen pertanian yang telah mengalami fermentasi spontan. Sedangkan yang dimaksud dengan pestisida alami, misalnya predator spesies binatang.”

Menurut Winarno, definisi pangan organik lainnya dapat melebar dan meluas. Contohnya, The International Federation of Organic Agriculture Movement (IFOAM) mengajukan batasan yang mencakup lebih luas dari sekadar aspek biofisik, yaitu yang meliputi beberapa aspek seperti perikebinatangan (animal welfare), biodiversitas, dan keadilan sosial.

Selanjutnya, pertanian organik adalah suatu sistem manajemen berproduksi secara ekologi yang mempromosikan dan meningkatkan biodiversitas, siklus biologis, dan keaktifan biologi tanah. Sistem tersebut dilaksanakan berdasarkan asupan bahan dari luar ladang pertanian seminimal mungkin dan dalam praktik manajemennya mampu mengembalikan atau mempertahankan dan meningkatkan terjadinya harmoni ekologi.

Nah, bagaimana pengertian- pengertian itu mewujud dalam sistem produksi pertanian organik sehari-hari, sekaligus dikenal masyarakat sebagai bagian dari gaya hidup sehat?

DI ketinggian 1.400 meter di atas permukaan laut, di pegunungan Tilu, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung, Dion Moeliono (43) memulai usahanya bertani sayuran di tanah keluarganya seluas tujuh hektar pada tahun 1990, selepas ia menyelesaikan kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah. Sepuluh tahun bertani anorganik atau menggunakan pupuk dan pestisida sintetis, Dion merasa mengalami kemunduran. “Bertani secara anorganik merupakan proses pemiskinan secara pelan-pelan,” katanya.

Itulah sebabnya, mulai tahun 2000 dia beralih ke pertanian organik. Ia akui, belum banyak orang bertani sayuran organik. Pasarnya pun masih khusus. Kebanyakan pembelinya adalah orang-orang asing yang tinggal di Indonesia atau kalangan menengah atas yang sudah memiliki pengetahuan tentang makanan sehat. Hanya saja, yang menyenangkan, menurut Dion, harga sayuran organik tidak disetir oleh pasar. Dengan kata lain, ada hubungan yang cukup langsung antara produsen dan konsumen.

Baru pada tahun 2002, Dion dan keluarga membuat perusahaan bernama Bukit Organik. Sejak itu, selain menjual produknya ke perorangan di Jakarta dan Bandung, mereka juga memasarkan produknya lewat beberapa supermarket.

Banting setir dari pertanian anorganik ke organik juga dilakukan oleh pasangan Kusnadi Umar Said (62) dan Herningsih Prihastuti (55). Kusnadi adalah pensiunan penerbang di Angkatan Udara. Sejak pensiun itu, pasangan ini merasa kesepian karena dua anaknya sudah menikah dan meninggalkan rumah.

“Kami lalu ingin punya kegiatan yang membuat kami senang dan selalu bersama. Lalu, dipilihlah bertani ini karena hobi saya tanaman. Tahun 2001 saya membeli lahan 2.000 meter persegi di kawasan Puncak (Jawa Barat),” cerita Kusnadi.

Pada awalnya mereka mengaku bertani secara “konvensional”, di mana pestisida digunakan secara bertubi-tubi. Sampai suatu ketika salah seorang pekerja di pertaniannya melapor telah terjadi kematian pada ayam-ayam di sekitar pertanian mereka. Menurut pekerja itu, kematian ayam-ayam tadi disebabkan oleh akumulasi paparan pestisida yang terbawa angin dari pertanian mereka.

Kata Herningsih, “Saya tersadar, cara bertani seperti ini kurang benar, bisa merugikan yang lain. Ayam saja mati karena akumulasi. Manusia mungkin tinggal tunggu waktunya. Sebab, pestisida kan racun hama, tetapi terus menempel pada sayur yang lalu kita makan.”

Dari situ mereka banting setir ke pertanian organik. Mereka “berguru” pada pihak di Puncak, yang selama ini dikenal dengan “kepeloporannya” pada pertanian organik, yakni Pusat Pengembangan Organis Pater Agatho. “Kami harus menyehatkan kembali tanah yang sudah terkontaminasi pupuk kimia dan pestisida. Tanah diberi pupuk hijau dan pupuk kandang,” kata Herningsih. “Kami berkomitmen bertani organis ini karena filosofinya arif sekali. Kami tidak sekadar belajar teknisnya, tetapi menyadari bagaimana menghargai alam dan makhluk-makhluk hidup ciptaan Tuhan.”

MEMANG, membicarakan pertanian organik ini tidak akan bisa melepaskan peranan Pater Agatho Elsener. Dia adalah biarawan Swiss yang mewarisi perusahaan pisau terkenal dari Swiss, Victorinox. Dialah yang mengembangkan pertanian organik di kawasan Tugu, Puncak, sejak tahun 1983- saat kegiatan seperti ini masih kurang populer, bahkan masa itu masih dikuasai arogansi sistem pertanian “modern” dengan intensifikasi penggunaan bahan-bahan sintetis.

Katanya, Agatho tergerak membuka pertanian ini setelah membaca buku The One-Straw Revolution karangan Masanobu Fukuoka-penggerak pertanian organik di Jepang. Fukuoka mengatakan, dalam pertanian yang utama bukan teknik, melainkan sikap. Sikap itu adalah sikap yang menghargai alam dan seisinya, yang kemudian mengejawantah dalam cara bercocok tanam.

“Mahatma Gandhi pernah bilang, alam ini akan selalu mampu mencukupi kebutuhan makan bagi penghuninya, tetapi tidak mampu untuk mencukupi satu saja manusia yang rakus,” kata YP Sudaryanto, Wakil Direktur Pusat Pengembangan Organis Yayasan Bina Sarana Bhakti milik Pater Agatho. Lulusan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada ini sudah 20 tahun “mengabdikan” hidupnya untuk mengembangkan pertanian organik bersama Pater Agatho.

Sudaryanto sebenarnya cenderung untuk menyebut pertanian organis-bukan organik. Katanya, organis lebih mengacu pada kata sifat ketimbang kata benda.

Pertanian organik-atau organis seperti diistilahkan Sudaryanto-kenyataannya tidak bisa dilepaskan dari semacam “perlawanan” terhadap pertanian “modern”. Tejo W Jatmiko, Direktur Konphalindo (Konsorsium Nasional untuk Perlindungan Hutan dan Alam Indonesia)-organisasi nonpemerintah yang aktif mengampanyekan pertanian organik- mengatakan, sejatinya proses pertanian adalah memang yang disebut dengan istilah pertanian organik sekarang. “Yang sejati itu malah sekarang kita beri istilah, sementara pertanian yang modern kita sebut pertanian konvensional,” ucap Tejo.

Dia menceritakan, bagaimana dulu ketika pertanian ala Revolusi Hijau diberlakukan di Indonesia, sampai terjadi sosialisasi program pertanian dengan pendekatan represif. Banyak petani yang memang tergiur dengan harga benih, pupuk, dan pestisida yang ketika itu murah, namun ada sejumlah petani yang tetap menolak pertanian modern, misalnya karena keyakinan adat dan lain-lain. Kata Tejo, “Program pemerintah saat itu kerap disosialisasikan dengan cara-cara represif. Militer, seperti Komando Rayon Militer (Koramil), bahkan sampai mencabuti tanaman petani- petani yang bertani tradisional, menolak cara modern. Ini pengakuan yang akhirnya terlontar dari beberapa petani yang telah kami jumpai.” Mengenang pengalaman itu, masyarakat sebaiknya memang selalu harus berwaspada terhadap rezim militer, sebagaimana orang berwaspada terhadap komunis.

KINI, tanda-tanda gaya hidup organik mulai kelihatan dalam pola konsumsi masyarakat. Di tempat perbelanjaan seperti Carrefour, seperti dikatakan Public and Customer Relations Manager Dekariyono Wiranto, “Kami lihat naiknya tren di konsumen untuk hidup kembali ke alam yang sehat.” Dia akui, angkanya memang masih kecil, sekitar enam persen dari total tempat yang digunakan untuk menjual sayuran. Ini berbeda dibandingkan dengan di luar negeri, yang komposisi sayur organik dan makanan-makanan diet bisa mencapai 50 persen dari total tempat.

Gaya hidup organik ini memang tampaknya masih menjadi “gejala elite”. Pangan organik mulai dari sayur-mayur, daging ayam, telur, sampai susu kambing ini di Jakarta juga bisa didapat di toko swalayan yang tergolong elite, yakni Ranch Market. Jaringan toko swalayan inilah yang boleh dibilang sebagai toko swalayan di Jakarta yang menjual produk pangan organik.

Selain itu, juga mulai terdapat restoran untuk masakan organik, seperti Restoran Healthy Choice di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, milik Riani Susanto, seorang spesialis detoksifikasi. “Saya yakin tidak lama lagi pangan organik ini akan semakin menjadi tren,” kata Riani.

Dalam kecenderungan segala sesuatu menjadi tren dari suatu gaya hidup, beberapa pihak mulai mengusulkan perlunya standardisasi dari pangan organik ini. Sebab, tanpa standardisasi ataupun labelisasi akan terjadi seperti dikonstatasi FG Winarno, “organik-organikan”. “Banyak sekali yang memakai label-label organik, tetapi masih organik-organikan…,” kata Winarno.

Kalau itu yang terjadi, maka “revolusi” untuk melawan industri besar yang hobi mengomodifikasi segala kecenderungan dan gaya hidup masyarakat juga akan terjatuh menjadi “revolusi-revolusian”. (Y09/PUN/EDN/SF/BRE

sumber : Kompas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: