Hasrat terhadap makanan organik di AS terus meningkat. Tapi pasokan tak mampu mengimbangi permintaan. Produk-produk organik hanya sekitar 2,5% dari total produk makanan yang beredar di Amerika.
Yang dimaksud makanan organik adalah makanan yang diproduk tanpa menggunakan pestisida pembunuh hama, hormon, antibiotik, atau bioteknologi.
Meski hanya 2,5 persen dari total produk makanan yang beredar, tapi penjualan produk organik di Amerika terbilang pesat. Penjualan makanan organik naik dari 15 persen menjadi 21 persen tiap tahunnya. Angka ini jauh melampaui pertumbuhan penjualan makanan umum yang hanya meningkat dari 2 persen ke 4 persen tiap tahun.
Jumlah lokasi pertanian organik diperkirakan mencaai 10 ribu, dan terus bertambah. Tapi jumlah ini dinilai tetap belum mencukupi. Sehingga pabrik makanan organik mencari bahan baku ke Eropa, Bolivia, Venezuela, dan Afrika Selatan. Ini membuat Amerika menjadi negara pengekspor makanan organik ketimbang sebagai pengekspor. Kalangan industri menyatakan telah lelah mengimpor terus.
Masalah mengenai cara memenuhi kebutuhan menjadi debat berkepanjangan di AS. yang berminat pada produk organik menyatakan, makanan organik tak sekadar makanan di atas piring, melainkan bagian dari upaya memperbaiki lingkungan tempat tinggal, dan membantu petani skala kecil.
Impor makanan organik juga dipahami sebagai upaya mengampanyekan produk ramah lingkungan ini. Negara pengeskpor, mau tak mau, harus mengikuti standar Ameika, ketika hendak memasukkan produk makanan organiknya ke Amerika.
Tapi, yang membenci impor, segera menukas bahwa ‘mengapa tak segera memenuhinya dari dalam negeri sendiri?’ Dengan cara ini mereka dapat memberikan keuntungan pada petani mereka sendiri.
Para pengimpor menegaskan bahwa setap orang bisa membantu mengurangi pencemaran lingkungan. Mengurangi penggunaan bahan kimia dalam pertanian mereka anggap sebagai tindakan kepahlawanan. Dan kesempatan itu terbuka bagi siapa saja, besar, kecil, di mana pun mereka berada.
(idionline/RoL)
Filed under: Makanan Organik